Mengapa Pemilik Waralaba (Franchisor) dan Penerima Waralaba (Franchisee) Berselisih

Meskipun ada banyak keuntungan dari Bisnis Waralaba (Franchise) bagi Penerima Waralaba (Franchisee) dan Pemilik Waralaba (Franchisor), penting untuk dipahami bahwa kedua belah pihak perlu memainkan peran yang berbeda dan memiliki tanggung jawab masing-masing yang harus mereka penuhi agar sistem franchise berfungsi dengan sempurna. Dalam artikel ini kami membahas:

  • Penyebab umum konflik franchise
  • Solusi yang memungkinkan

     Penyebab Umum Konflik

    1. Masalah Keuangan

    Kemungkinan pemicu konflik muncul karena kedua kelompok menghasilkan uang dengan cara yang berbeda. Memahami perbedaan ini membantu Franchisor dan Franchisee, tidak hanya dapat membantu menghindari adanya ketidaksepakatan tetapi juga untuk meningkatkan tingkat kesuksesan mereka.

    Pada intinya, bisnis franchise adalah model bisnis di mana satu pihak (Franshicor) menawarkan hak proses bisnis dan nama mereknya kepada pihak lain (Franchisee), yang menggunakannya untuk menjual produk atau layanan kepada pembeli dengan biaya tertentu. “Biaya” yang dibayarkan oleh Franchisee biasanya merupakan persentase dari penjualan kotornya. Hal ini berarti keuntungan Franchisor akan meningkat sesuai dengan peningkatan penjualan Franchisee. Maka dalam berbagai kondisi Franchisor biasanya menerapkan kebijakan untuk memaksimalkan penjualan di lokasi Franchisee.

    Namun dari sisi Franchisee, keuntungan yang dihasilkan adalah dari selisih pendapatan dan biaya operasional. Karena itu, mereka mencari kebijakan yang memaksimalkan keuntungan di lokasi mereka. Kebijakan yang memaksimalkan penjualan di outlet bukan selalu yang memaksimalkan keuntungan yang besar sehingga dapat menyebabkan konflik antara kedua belah pihak.

    Rekomendasi Solusi

    Dalam industri apapun, komunikasi adalah kuncinya. Franchisor dapat memberikan ruang yang aman bagi Franchisee untuk menyampaikan saran dan ide mereka dan sebaliknya. Pertemuan dapat menyelesaikan konflik sementara yang lain mendapat manfaat dari apa yang dibahas. Selanjutnya, hubungi mediator atau broker franchise sebagai pihak netral untuk bergabung dalam rapat agar agenda tetap objektif untuk kepentingan bersama.

    2. Mengontrol Kualitas Produk

    Ketika seseorang membeli franchise, secara tertulis ia telah setuju untuk mengikuti pedoman yang ditetapkan untuk berhasil mengikuti kesuksesan yang diraih Franchisor. Kualitas produk atau jasa menjadi perhatian utama. Terdapat spektrum yang luas tentang bagaimana Franchisor dapat mengelola hal ini dengan benar.

    Kontrol Kualitas Produk dapat dikelola dan dapat menimbulkan konflik dalam 2 cara:
    1. Franchisor yang bersikeras bahwa semua produk atau bahan baku harus bersumber dari mereka.
    2. Franchisor yang memungkinkan Franchisee untuk mencari hampir semua produk atau bahan baku secara lokal.

    Ketika semua produk bersumber dari Franchisor, kualitas produk dapat dijamin selalu konsisten. Namun, konflik dapat terjadi ketika harga produk atau bahan baku terlalu tinggi. Hal ini dapat menimbulkan banyak beban keuangan pada Franchisee karena mereka juga perlu menjaga kesehatan operasional bisnis. Ketika Franchisee tidak dapat memperoleh keuntungan yang cukup untuk mempertahankan bisnis mereka, mereka mungkin tidak dapat mempertahankan usaha franchise tersebut. Jika model ini direplikasi di seluruh jaringan franchise, dan Franchisee tidak dapat memperoleh keuntungan yang cukup, hal itu dapat menyebabkan kerugian besar bagi Franchisor meskipun mereka mendapat manfaat dari peningkatan sumber pendapatan dalam jangka pendek.

    Pada sisi lain, terdapat Franchisor yang mengizinkan Franchisee untuk mencari segala sesuatu secara lokal untuk membantu mengelola biaya. Artinya, kemungkinan besar Franchisor telah memberikan formula atau resep rahasianya kepada Franchisee. Dalam skenario kasus yang baik, Franchisee akan dengan setia mereplikasi dan memastikan untuk menjaga kualitas. Namun, jika Franchisee memiliki kendali penuh atas kualitas, Franchisor memiliki beban tambahan untuk melakukan audit yang sangat teratur untuk memastikan kualitas tetap terjaga. Jika hal ini tidak dilakukan dengan seksama, kualitas yang tidak konsisten pada setiap Franchisee dapat mengakibatkan rusaknya merek. Kerugian utama lainnya dari menawarkan terlalu banyak pengetahuan hak milik intelektual kepada pefranchise adalah undangan terbuka bagi mereka untuk mengambil pengetahuan dan memulai brand mereka sendiri.

    Rekomendasi Solusi

    Untuk mengurangi konflik, Franchisor dapat menginvestasikan upaya dalam merancang rantai pasokannya sehingga dapat mempertahankan kekayaan intelektualnya sementara memungkinkan Franchisee memiliki akses ke produk atau jasa yang sesuai dengan bisnis franchise dengan biaya yang terjangkau.

    3. Dukungan Pemasaran

     Franchisor memiliki merek dan biasanya perlu terus berinvestasi pada merek tersebut di tingkat global. Untuk melakukan gerakan ini, setiap Franchisee dapat menyumbangkan persentase dari pendapatan mereka.

    Seringkali Franchisee mengeluh bahwa Franchisor tidak menawarkan dukungan Pemasaran franchise yang cukup. Dukungan yang datang dari Franchisor mungkin lebih terkait dengan kesadaran merek dan tidak terlokalisasi seperti yang dibutuhkan oleh Franchisee.

    Franchisor akan menjalankan strategi kesadaran merek dengan tujuan untuk menjangkau lebih banyak klien secara keseluruhan dan pada tingkat makro. Seringkali, ini adalah hasil dari mengumpulkan semua kontribusi dari setiap Franchisee. Meskipun secara keseluruhan merek semakin dikenal, Franchisee mungkin tidak mendapatkan manfaat langsung dari usaha pemasaran ini.

    Mereka mungkin juga tidak memiliki margin yang cukup untuk mendedikasikan sebagai investasi tambahan untuk membuat iklan lokal jika tidak direncanakan.

    Rekomendasi Solusi

    Untuk menghindari pertengkaran, penting bagi Franchisor untuk memimpin dan menjelaskan dengan jelas penggunaan dana pemasaran nasional dan menyarankan Franchisee untuk menyisihkan sebagian dana untuk pemasaran iklan lokal mereka. Penting juga untuk memberikan pedoman dan ide promosi yang telah berhasil diterapkan oleh Franchisor yang dapat mempersingkat kurva pembelajaran Franchisee. Dengan cara ini, Franchisor dapat merencanakan kampanye pemasaran nasional sambil tetap berkontribusi sesuai pada kemampuan Franchisee untuk pemasaran di tingkat lokal.

      4. Konflik Biaya Promosi

    Penyebab umum lainnya adalah penggunaan diskon seperti beli satu gratis satu, yang umum terjadi di bisnis ritel. Jika dilakukan dengan benar, diskon beli satu gratis satu akan membawa lebih banyak pelanggan ke outlet sehingga dapat meningkatkan penjualan. Prinsipnya, setiap promosi yang dilakukan harus menguntungkan kedua belah pihak.

    Untuk Franchisor, peningkatan pendapatan di outlet secara langsung terkait dengan promosi yang sukses yang mengarah pada royalti yang lebih tinggi.

    Tetapi bagi Franchisee, strategi diskon mungkin tidak meningkatkan keuntungan. Jika tidak meningkatkan ukuran pembelian pelanggan rata-rata, biaya produk atau bahan baku dan biaya operasional dapat dinaikkan sehingga setiap manfaat dari aktivitas promosi ini terkikis. Artinya, meskipun pendapatan meningkat, keuntungan bagi Franchisee dapat menjadi lebih rendah daripada tanpa adanya aktivitas promosi.

     Rekomendasi Solusi

    Konflik antara Franchisor dan Franchisee berakar pada ekonomi franchise. Franchisor menginginkan strategi kupon karena akan menghasilkan lebih banyak uang, sedangkan Franchisee mungkin tidak menginginkannya karena mungkin tidak menguntungkan mereka secara finansial. Presentasi yang jelas tentang pro dan kontra strategi penetapan harga dapat membantu kedua belah pihak mencapai keputusan yang dapat diterima.

    5. Bidang Lain yang mungkin menjadi Perhatian

    Jam Operasional yang Diperpanjang

    Terkadang, Franchisor dapat merancang inisiatif yang dimaksudkan untuk membantu Franchisee meningkatkan pendapatannya. Contohnya, dengan memperpanjang waktu operasional, tentunya akan meningkatkan lebih banyak pendapatan. Bagi Franchisor, strategi ini sangatlah masuk akal. Namun bagi Franchisee, memperpanjang jam operasional berarti bertambahnya beban tenaga kerja sehingga akan meningkatkan beban upah atau beban operasional.

    Sengketa Lokasi

    Perbedaan antara memaksimalkan penjualan dan keuntungan juga menyebabkan Franchisor dan Franchisee berselisih tentang penambahan lokasi. Bahkan ketika lokasi tambahan berpotensi untuk mengkanibal penjualan di outlet yang ada, pilihan ini tetap akan menguntungkan bagi Franchisor karena adanya biaya diawal yang diterima saat memiliki Franchisee baru. Tetapi itu tentunya akan merugikan Franchisee, dimana penjualan akan menurun, sedangkan biaya operasional yang dikeluarkan tetap sama.

    Rekomendasi Solusi

    Untuk memastikan hubungan yang baik antara Franchisor dan Franchisee, penting bagi Franchisor untuk belajar melihat segala situasi menggunakan persepsi yang berbeda. Franchisor wajib untuk melihat pertumbuhan bisnis secara menyeluruh dan mempertimbangkan segala aspek dari kedua belah pihak. Sangatlah penting bagi Franchisor untuk menyiapkan proses manajemen franchise yang terstruktur dan seimbang.

    Komunikasi Adalah Kuncinya

    Sama seperti pertengkaran suami-istri, jika Franchisor dan Franchisee saling berdiskusi untuk memberi pencerahan, mengatasi masalah bersama, dan bergerak ke arah yang sama, masalah akan terpecahkan dan dapat membuat hubungan menjadi lebih kuat.

    Terdapat banyak area yang perlu diperhatikan oleh Franchisor untuk mengantisipasi potensi perselisihan. Usaha franchise bukan hanya tentang Franchisor yang berbagi pengetahuan dan mengumpulkan banyak keuntungan, juga bukanlah tentang Franchisee yang mendapatkan segalanya dari Franchisor dan membayar sesedikit mungkin. Jika demikian, kedua skenario tersebut tidak akan menguntungkan. Sebaliknya, bisnis franchise adalah tentang keseimbangan antara keduanya sehingga manfaat dari sistem yang dirancang dengan baik dapat juga berjalan dengan baik.

    Related Articles

    Strategi Pengembangan Bisnis Waralaba

    Strategi Pengembangan Bisnis Waralaba

    Setiap bisnis adalah unik dan memiliki konsep dan rencana bisnisnya sendiri. Sama halnya dengan pengembangan sistem waralaba, setiap bisnis perlu untuk mengembangkan strateginya masing-masing yang pastinya dibutuhkan usaha yang berbeda dengan bisnis lainnya. Meskipun...

    read more
    Zenbu | House of Mozaru

    Zenbu | House of Mozaru

    Food & BeveragesDengan menggunakan tagline House of Mozaru, Zenbu menjadi surga para pecinta baked rice dengan topping mozzarella tersebut. Selain Mozaru, Zenbu juga memiliki berbagai varian menu makanan Jepang modern seperti sushi, udon, okonomiyaki, teppanyaki, dan...

    read more
    Hangry | Autopilot Franchise

    Hangry | Autopilot Franchise

    Food & BeveragesHangry adalah restoran dengan berbagai macam brand (Moon Chicken, SanGyu, Kopi Dari Pada, Nasi Ayam Bude Sari dan Ayam Koplo) yang terfokus pada layanan pesan antar dengan menyajikan menu beragam. Ketika kita merasa lapar dan butuh makanan, kita...

    read more

    Speak to our consultants today